Mimpi dan Motivasi

"Mimpilah setinggi mungkin,berusaha dan berdo'alah semaksimal mungkin". Begitulah kalimat yang pernah aku dengar. Jika kamu mempunyai mimpi tinggi maka kejarlah mimpimu, jangan takut kamu terjatuh karna kamu tak akan pernah jatuh jika kamu berusaha dan berdo'a dengan setulus hati . Banyak orang takut akan mimpi yang ia bangun, bisa banyak faktor salah satunya ia tak percaya dengan kemampuan dan potensi yang ia miliki . Setiap orang memiliki hak untuk menggapai apa yang ia mau. Tuhan selalu memberikan kesempatan kita untuk mencoba, yang perlu kita ingat takdirnya sudah menjadi ketetapannya . Jangan kecewa ketika kamu sudah berusaha keras namun apa yang kamu mau tidak sesuai dengan harapanmu. Tuhan jauh lebih mengetahui mana yang terbaik untuk hidupmu, rencanaNya lebih indah dari yang kamu bayangkan. Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi tentang kisah perjalanan saya, tentang mimpi saya yang mungkin bisa dijadikan cermin bagi yang membacanya . Saya adalah gadis 19 tahun, saya hidup ditengah-tengah keluarga sederhana dan saya bangga karna kedua orangtua saya selalu mendukung jalan yang saya pilih. Tahun ini menjadi sebagian kecil dari ujian kehidupan yang saya hadapi, tapi bisa jadi menentukan bagaimana nasib saya di masa depan. Lulus dari sebuah sekolah menengah atas di pinggiran kota, sekolah saya memiliki namaa yang cukup dikenal banyak orang di daerah saya,ya SMAN 1 GENTENG adalah tempat dimana saya telah menghabiskan setengah dari masa-masa remaja saya yang orang selalu mengatakan itu adalah masa yang paling asik, masa yang labil entah itu tentang perasaan dan cinta sampai memilih kehidupan di masa yang akan datang . Selama 3 tahun saya mengenal banyak orang yang sedikit banyak telah membawa saya pada perubahan , serta pengalaman hidup yang berharga dari masing-masing kelebihan dan kekurangan yang selalu menjadi ketertarikan untuk terus saya pelajari . Bagi saya sekolah sudah menjadi rumah kedua dimana Guru menjadi pengganti orang tua, dan teman adalah saudara. Bagiku perkenalan masa putih abu-abu adalah masa yang sampai saat ini masih begitu membekas untuk dapat tergantikan. Perasaan yang sangat saya rindukan adalah rasa dimana saya bangga dengan almamater yang saya punya . Singkat cerita, entah apa hanya saya yang saat itu tenggelam dari keinginan buta yaang sebenarnya berlawanan dengan hati saya . Setiap orang pasti memiliki keinginan, tetapi hanya beberapa orang saja yang bisa meraihnya . Bukan karna kurang perjuangan tapi bisa sja memang Tuhan telah memberikan apa yang lebih dibutuhkan umatnya, bukan karna keinginan dan nafsu semata. Saat itu di penghujung SMA, saat dimana siswa kelas duabelas dihadapkan pada pilihan-pilihan yang secara tidak langsung itu adaalah tekanan. Memilih sebuah Instansi Perguruan Tinggi yang akhirnya akan menjadi tempat berpijak setelah dinyatakan lulus dari sekolah menegah atas. Fenomena yang saat itu terjadi pada diri saya ketika saya tak bisa menjawab pertanyaan saya sendiri . "apa yang akan saya pilih?" apa yang sebenarnya saya suka dan mampu lakukan?" yang saat itu saya hanya tahu kata kunci dimana saya ingin menghindari studi lanjut pelajaran Fisika dan Menggambaar . Saya merasa sedikit bahagia karna ketika saya lulus saya tidak akan lagi dihadapkan dengan problematika yang selama ini tidak pernah bisa merebut ketertarikan dan hasrat saya . Yang saya pikirkan saat itu adalah cukup mempelajari sperlunya dan setelah itu lekas melepaskannya . Saya merasa saya bisa memilih hal-hal yang saya suka selama sayaa mampu untuk menggapaainya . Ketertarikan saya pada jiwa manusia membuat saya ingin mempelajarinya lebih dalam yang membawa saya pada beberapa pilihan masuk di jurusan kesehatan atau psikologi . selalu saya menayakan tentang hal ini pada kedua orangtua saya, menjadi bidan, dokter, atau psikolog . sampai pada akhirnya tinggallah antara 2 pilihan antara menjadi dokter dan psikolog . Dua jurusan yang ada di bidang berbeda membuat saya berpikir lebih keras untuk memilihnya . Keinginan menjadi psikolog sudah lama saya impikan, namun ada hal lain yang menjadi pertimbangan , pertama faktor orangtua yang tidak merestui, kedua saya tidak memliki kepercayaan diri untuk mempelajari ilmu humaniora agar saya bisa lulus tes . Tapi untuk memilih kedokteranpun saya juga sadar kalau usaha saya masih sangat kurang sehingga membawa saya pada ketakutan yang tak pernah saya tahu kapan akhirnya .  Saya hanya memikirkan "apapun yang terjadi saya hanyaa bisa belajar dan berdo'a" selebihnya saya serahkan pada takdir Tuhan untuk saya. Do'a yang selalu terpanjat adalah agar saya senantiasa dijauhkan dari segala hal yang akan membuat saya lupa akan kekuasaanNya. Saya merasa tak kurang berusaha, layaknya seorang manusia yang mempunyai keinginaan dan mimpi, saya bertirakat pada Tuhan agar selalu diberikan kemudahan. Bahkan kerap saya menangis karna tenggelam dalam kebimbangan yang saya sendiri tak bisa mengartikannya. Tidak memahami apa yang sebenarnya saya inginkan adalah sebuah masalah yang membawa saya benar-benar jatuh . Saya menyadari ternyata saya telah mmenyia-nyiakan kesempatan, tetap kuat saat gagal di SBMPTN membuat saya sadar bahwa jurusan kedokteran bukanlah yang saya inginkan . Lalu saat ini saya hanya menyesali telah menyia-nyiakan pilihan yang sebenarnya lebih banyak peluang untuk bisa saya raih . Saya kembali dibingungkan dengan jadwal yang bersamaan antara tes terakhir di sebuah sekolah tinggi atau mengikuti tes PT . Saat itu saya benar-benar merasa paada pilihan sulit . Melanjutkan usaha saya yang tinggal selangkah lagi tanpa kepastian, atau memilih mengikuti tes dengan yakin . Dengan berbagai pertimbangan atas dasar keyakinan saya mampu saya memilih untuk melanjutkan tahap lanjutan masuk ke sokolah tinggi, saya merasa Tuhan ada bersama saya selama proses tes berlangsung , dengan usaha dan persiapan yang saya lakukan sebelum tes berlangsung, saya sangat optimis dengan hasilnya bahwa saya aakan sukses pada pilihan ini . Namun, ketika diumumkan pada akhirnya ternyata saya gagal . Ini adalah puncak saya merasa jatuh, kecewa pada diri saya sendiri, marah, dan tidak bisa menerima kenyataan . Terlebih jika mengingat bagaimana orangtua saya begitu mendukung dari tahap awal yang hanya mencoba sampai pada akhirnya merasa dikecewakan karna kehilangan kesempatan berharga . Berhari-hari saya tenggelam dengan kegagalan ini, saya merasa telah berlari jauh tapi ada jurang yang menjebak saya ketika tinggal satu langkah lagi untuk sampai . Baru kali ini saya kehilangan kepercayaan diri dan paraahnya tidak bisa menerima kenyataan. Sekalipun saat itu semua tahu dan menyadari bahwa kegagalan saya bukan karna saya taak mampu , saya merasa tidak adil karena merasa terhalang oleh tindakan-tindakan licik. Dengan terpaksa dan setengah hati saya masuk di jurusan teknik sipil di sebuah perguruan tinggi . Yang membuat saya semakin kehilangan jati diri adalah kenyataan yang  harus saya jalani adalah sesuatu hal yang benar-benar ingin saya jauhi . Dengan mencoba bangkit dan ikhlas saya mencoba mngendalikan ego saya. Menerima dan yakin bahwa ini aadalah takdir yang telah Tuhan berikan. Tetapi saya merassa kehilangan arah dan tujuan, kehilangan harapan dan kehilangan semangat . Yang ada dipikiran saya hanya sekadar "berangkat,kuliah,pulang" tanpa ingin tahu itu memberi manfaat atau tidak untuk hidup saya. Walaupun terus mencoba ikhas, tapi kejujuran hati menngatakan bahwa saya merasa tidak puas dengan ini tapi saya juga tidak tahu bagaimana caranya bangkit .Hari-hari saya serasa abu-abu, semua yang saya lakukan terasa berat. Tapi saya selalu berpikir positif bahwa ini adalah cara Tuhan mengistimewakan jalan hidup saya . Dari sini saya belajar banyak hal yang mungkin tidak akan saya dapatkan ketika apa yang saya inginkan dikabulkan oleh Tuhan. Bagiku ini adalah salah satu misteri yang tidak pernah saya bayaangkan dan tidak pernah saya tahu akhirnya. Mungkin saat ini kamu membenci akan sesuatu hal tapi yang harus selalu diiingat adalah Sesuatu yang sangat kamu benci bisa sajaa didekatkan denganmu agar kamu belajar untuk tidak membencinya lagi...

Di balik kegagalan ada hal yang jauh lebih besar yang kita dapatkan jika kita maampu mensyukurinya dengan ikhlas ....
Jangan pernah takut untuk bermimpi jangan takut pula untuk gagal
Keberaniaan adalah kekuatan
Tapi sumber kekuatan ada pada seberaapa besar keyakinanmu terhadap Tuhan ..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RANCU

Bait Sendu

Cerita Bulan Dua